Kamis, 28 April 2011

Klasifikasi DDC

Untuk menemukan sebuah buku di rak bagi mahasiswa ilmu perpustakaan atau seseorang yang bergelut di bidang perpustakaan tentunya tidaklah susah. Tetapi bagaimana dengan mereka yang berada di luar itu? Dan kalau Anda termasuk orang yang pernah mengalami kesulitan dalam menemukan buku yang Anda cari, semoga tidak akan terulang lagi setelah Anda membaca tulisan ini karena sebagian besar perpustakaan di Indonesia mengelompokan koleksinya berdasarkan sistem klasifikasi persepuluhan Dewey (DDC).

Klasifikasi Persepuluhan Dewey (Dewey Decimal Classification (DDC) adalah sebuah sistem klasifikasi perpustakaan yang diciptakan oleh Melvil Dewey (1851–1931) pada tahun 1876. Sejak diciptakan DDC telah banyak dimodifikasi dan dikembangkan dan telah mengalami 22 kali revisi (DDC Edisi 22). Lebih hebatnya lagi sekarang sudah ada e-DDC berbahasa Indonesia.

Mungkin Anda bertanya-tanya apa maksud label yang ada di punggung buku perpustakaan. Pada label itulah terdapat nomor klasifikasi koleksi perpustakaan. Melalui nomor klasifikasi itu, kita dapat mengetahui penempatan koleksi di rak. Label itu terdiri dari nomor klasifikasi, tiga huruf indeks nama penulis dan satu huruf awal judul. Nomor klasifikasi ini paling sedikit tiga digit; setelah digit ketiga dipisahkan dengan tanda titik sebelum diteruskan angka berikutnya.

Misalnya buku berjudul Pemikiran para pakar ekonomi terkemuka dari Aristoteles hingga Keynes tulisan George Soule. Subjek buku tersebut adalah Ekonomi, Sejarah perkembangan.

330.9 : Economic Situation and Conditions/Situasi dan Kondisi Ekonomi
SOU : Diambil dari nama George Soule
p : Huruf awal judul buku, Pemikiran para pakar ekonomi terkemuka dari Aristoteles hingga Keynes

Dewey membagi ilmu pengetahuan dalam 10 kelas utama. Sepuluh kelas tersebut kemudian dibagi-bagi lagi menjadi subjek-subjek keilmuan yang lebih sempit.
Sepuluh kelas utama tersebut adalah:
  • 000 Karya umum
  • 100 Filsafat dan psikologi
  • 200 Agama
  • 300 Ilmu sosial
  • 400 Bahasa
  • 500 Sains dan matematika
  • 600 Teknologi
  • 700 Kesenian dan rekreasi
  • 800 Sastra
  • 900 Sejarah dan geografi
Sedangkan untuk kolesi pustaka Islam menggunakan notasi 2X yang merupakan pejabaran dari notasi 297 pada notasi DDC. Berikut adalah sepuluh kelas utamanya:

2 X 0 Islam (Umum)
2 X 1 Al-Quran dan Ilmu Terkait
2 X 2 Hadis dan Ilmu Terkait
2 X 3 Aqaid dan Ilmu Kalam
2 X 4 Fiqh
2 X 5 Akhlak dan Tasawuf
2 X 6 Sosial dan Budaya
2 X 7 Filsafat da Perkembangannya
2 X 8 Aliran dan Sekte
2 X 9 Sejarah, Islam dan Modernisasi


Tentu hal ini tidak perlu dihafalkan karena di setiap perpustakaan pasti ada petunjuk-petunjuk semacam ini. Lebih mudahnya lagi sebelum sweeping di rak buku ada baiknya Anda menyempatkan diri sejenak menggunakan katalog yang ada. Untuk katalog cetak caranya seperti tadi, cari kartu katalog pengarang, judul atau subjek. Setelah ketemu lihat nomor klasifikasinya baru kemudian mencari di rak.
Kalau perpustakaan sudah menyediakan katalog digital Anda tentu akan lebih mudah lagi. Anda tinggal memasukan kata kunci pada kolom pencarian. Pada umumnya tersedia menu pencarian sederhana dan pencarian advanced, mau pakai yang mana terserah Anda, yang penting tidak akan menemui kesulitan dalam menemukan buku di rak perpustakaan.

Senin, 18 April 2011

TEKNOLOGI INFORMASI*


PENGERTIAN TEKNOLOGI INFORMASI

  • Kata Teknologi Informasi berasal dari kata Information Technology.
  • Kata Technology berdasarkan Kamus Advanced Leaner's Dictionary of Current English (1974) adalah penerapan pengetahuan secara sistematis pada tugas-tugas praktis dalam suatu industri.
  • Menurut Sulistyo-Basuki (1992:81) dinyatakan bahwa Teknologi dapat diartikan sebagai pelaksanaan ilmu, sinonim dengan ilmu terapan.Menurut Pendit (1992) Informasi adalah kumpulan data yang terstruktur, yang disampaikan seseorang kepada orang lain.
  • Pengertian Teknologi Informasi berdasarkan pengertian dari British Advisory Council for Applied Research and Development (Dalam Zorkoczy, 1990: 12). adalah : Bidang-bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan perekayasaan serta teknik-teknik pengelolaan yang digunakan dalam penanganan dan pengolahan informasi, penerapan bidang dan teknik tersebut, komputer dan interaksinya dengan manusia dan mesin, masalah sosial ekonomi serta budaya yang berkaitan.
  • Khusus di bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi Sulistyo-Basuki(1993) menyatakan bahwa Teknologi Informasi adalah teknologi yang digunakan untuk menyimpan, mengolah, menghasilkan, dan menyebar- luaskan informasi.
FUNGSI TEKNOLOGI INFORMASI

FUNGSI UTAMA TEKNOLOGI INFORMASI
  • Mengatur informasi 'Ing Griyo' (In-house information), atu innformasi yang ada di dalam lembaga informasi tsb, serta mengusahakannya agar dapat ditemu balik.
  • Mengakses pangkalan data luar (ekstern), yaitu panngkalan data dari lembaga-2 lain, maupun belahan dunia lain.

    FUNGSI-FUNGSI LAIN:

  • Meringankan beban kerja,
  • Efisien dan menghemat waktu,
  • Meningkatkan jasa Perpusdokinfo dan fungsi-fungsi baru,
  • Membangun jaringan kerja dan kerjasama.
ALASAN UNTUK MENGEMBANGKAN TEKNOLOGI INFORMASI

  • Untuk meningkatkan kegunaan (advantage)
  • Untuk mengembangkan produktivitas dan kinerja
  • Untuk memfasilitasi sarana baru untuk pengelolaan dan pengorganisasian
  • Untuk mengembangkan bisnis baru
THE MAIN CONSTITUENT OF I. T.


METODE-2 YANG DAPAT DIKEMBANGKAN MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI

  1. Media simpan optic
    Metode untuk merekam pengetahuan termasuk komputer dan perangkat lunaknya serta media simpan-optik. Dengan metode ini suatu pangkalan data lengkap memungkinkan pemakai menelusuri direktori, ensiklopedia, data statistic, dan keuangan.
  2. Metode menyimpan cantuman
    Metode menyimpan cantuman mengenai berbagai kegiatan termasuk perangkat keras komputer dan perangkat lunaknya seperti yang digunakan untuk merancang bangun, dan menciptakan serta menyunting cantuman dalam pangkalan data.
  3. Metode mengindeks dokumen dan informasi, termasuk teknik pembuatan indeks dengan komputer untuk memudahkan temu balik informasi dalam suatu pangkalan data dalam komputer.
  4. Metode mengkomunikasikan pengetahuan., antara lain: a) sistem pos elektronik, b) system transmisi faksimil, c) majalah elektronik, d) telekonferens atau yuang dikenal dengan nama trimitra,e) videokonferens dan f) jaringan komunikasi data, untuk mengkomunikasikan data dalam bentuk terbacakan mesin.
POHON TEKNOLOGI INFORMASI

Cakupan Teknologi informasi meliputi
  • Telekomunikasi. Contoh penerapannya yaitu : adanya Teleconference atau yang sekarang dikenal dengan nama Trimitra; Telkom Memo; Lacak, dll.
  • Komputer, termasuk mikrobentuk. Contohnya yaitu, perlindungan data, sistem pakar, komunikasi suara dengan bantuan komputer.
  • Jaringan digital, contohnya antara lain adanya surat elektronik, sistem informasi, jaringan informasi
  • Audio dan video, termasuk sistem komunikasi optik. Contoh : Video Conference, Video-teks ,dll.
Teknologi informasi mengalami kemajuan dalam dua arah:
  • Pengembangan produk, yaitu pengembangan perangkat sistem dan konsep konsepnya (gagasan, prosedur), dengan cakupan aplikasi di segala bidang yang mengharuskan manusia berhubungan dengan informasi, dilihat dari perangkat yang digunakan.
  • Aplikasi produk dan konsep tsb. pada sejumlah kegiatan tertentu, antara lain di bidang industri, keuangan dan perdangan, percetakan, militer, dan untuk pengelolaan pekerjaan di kantor.
Aplikasi teknologi informasi yang tercakup dalam ruang lingkup suatu sistem informasi
  • Library housekeeping ( Pengelolaan perpustakaan)
  • Information retrieval (Temu kembali informasi / Penelusuran Informasi)
  • General purpose software (Perangkat lunak untuk berbagai macam keperluan)
  • Library networking (Jaringan kerjasama perpustakaan )
--> Library Housekeeping
Library housekeeping atau pengelolaan perpustakaan, merupakan istilah umum yang mengacu pada berbagai macam kegiatan rutin yang perlu dilakukan agar supaya perpustakaan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Dengan adanya kemajuan teknologi informasi dapat dilakukan dengan menggunakan sistem yang terpadu yang terdiri dari beberapa modul, yaitu akuisisi atau pengadaan, pengatalogan, sirkulasi, pengaksesan katalog oleh umum atau yang dikenal dengan nama OPAC (Online Public Akses Catalog), dan peminjaman antar perpustakaan. Sistem informasi yang terpadu di perpustakaan secara umum dikenal dengan nama Automasi Perpustakaan.

Pengertian Otomasi Perpustakaan

> Dari segi etimologi berasal dari bahasa Inggris yaitu Library Automation.
> Kata Automation di dalam Microcomputer dictionary berarti :1) Perubahan dari suatu proses atau prosedur secara otomatis;     2) Pelaksanaan proses dengan sarana-sarana otomatis
> Konsep Automasi berdasarkan Encyclopedia of Science and Technology, Vol.1, berarti penerapan mesin-mesin komputer pada penyimpanan, pemrosesan data-data bisnis, teknis, maupun ilmiah.
> Automasi perpustakaan berarti penggunaan komputer untuk semua kegiatan perpustakaan mulai dari pengadaan, pengolahan, sampai ke layanan sirkulasi, dalam suatu sistem yang terintegrasi.

JENIS-2 JARINGAN INFORMASI

> LAN adalah suatu jaringan komputer dengan daerah kerja relatif kecil, dalam satu lokal; dan
> Metropolitat Area Network (MAN ), dengan daerah kerja antara 30 sampai 50 km, yang merupakan alternatif pilihan untuk membangun jaringan komputer kantor-kantor dalam satu kota.
> WAN adalah jaringan komputer yang daerah kerjanya mencakup radius antar kota, antar pulau, dan bahkan antar benua.


* Ini adalah materi presentasi Kuliah TI Bu Ati Kamis 14 April 2011, semoga bermanfaat dan selamat menikmati..

Jumat, 15 April 2011

Ngobras..!! - Ngobrol Santai "How to Optimize Our Library?"


Semua pasti tahu yang namanya perpustakaan, tapi belum semua orang mampu untuk memanfaatkan perpustakaan dengan optimal. Hal ini sepertinya berlaku juga untuk sebagian besar mahasiswa, ini tentunya sangat disayangkan. Padahal informasi yang ada di perpustakaan begitu banyak dan apabila dimanfaatkan dengan baik pasti akan sangat membantu perkembangan pengetahuan seluruh sivitas akademik. Hal itu tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Sebagai langkah awal dalam sosialisasi perpustakaan, Departemen Pengembangan Sumberdaya Mahasiswa HMJ Ilmu Perpustakaan bekerjasama dengan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro menyelenggarakan bimbingan pemustaka yang dikemas dalam Ngobras. Acara yang digelar 14 April 2011 mengambil tema "How to Optimize Our Library?"

Acara ini diisi oleh Dra. Ari Widjayanti, kepala UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro dan dibuka oleh Pembantu Dekan III Fakultas Ilmu Budaya, Drs. Mujid Farihul Amin, M.Pd. Dalam acara ini Dra. Ari Widjayanti tentunya tidak sendirian, beliau didampingi 8 staff perpustakaan. Turut hadir pula Pak Anggarjitono, Pak Pujo Winarno, Bu Yuven, dll. Acara ini dihadiri oleh sekitar 70 mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya dan mereka juga cukup antusias mengikutu acara ini dan mendengarkan setiap pemaparan dari Bu Yanti.

Dalam materinya Bu Yanti memaparkan banyak hal tentang UPT Perpustakaan Undip. Beliau menjelaskan profil perpustakaan sacara detail sehingga peserta diharapkan akan lebih mengenal perpustakaanya dan tergerak untuk memanfaatkan koleksi-koleksinya. Dijelaskan pula bahwa UPT Perpustakaan undip juga mempunyai layanan e-journal dan e-book yang bisa diakses dengan mudah melalui www.digilib.undip.ac.id. Selain e-book dan e-journal, ada juga www.eprints.undip.ac.id yang memuat local content dari Universitas Diponegoro dan www.perpus.undip.ac.id yang merupakan katalog online UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro.

Tiba saatnya pada sesi tanya jawab dan acarapun semakin seru. Begitu diberi kesempatan untuk bertanya banyak peserta yang langsung mengacungkan tangan. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan, tetapi ada juga yang memberikan saran atau sekedar menceritakan pengalaman di perpustakaan.

Diharapkan melalui acara ini peserta Ngobras mampu merubah pandangan terhadap perpustakaan. Sekarang sudah tidak jamanya perpustakaan sebagai gudang buku, karena perpustakaan adalah GUDANG INFORMASI. Jadi pemustakalah yang harus menggali informasi yang tesimpan di perpustakaan untuk dimanfaatkan.

Baca, Cara Pintar untuk Pintar..!

[Perpustakaan Nasional]
         


Ngobras..!! - Ngobrol Santai “Public Speaking untuk KemajuanPerpustakaan”

Berbicara. Siapa yang tidak melakukan hal ini? Dari dalam kecil kita sudah melakukannya. Tak terbayangkan sebelumnya bicara yang merupakan rahmat yang diberikan oleh Tuhan kepada semua umatnya dewasa ini harus dipelajari secara khusus.
Berbicara adalah ketrampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan, bahasa tubuh dan mata untuk mendapatkan respon dari orang lain. Berbicara juga sebagai alat interaksi dan komunikasi. Berbicara, sangat mudah dilakukan tapi bagi sebagian orang akan menjadi susah dilakukan. Apalagi berbicara didepan khalayak ramai. Karena ini melibatkan kemampuan, percaya diri dan keberanian. Apalagi jika dibutuhkan berbicara dengan rapi dan lancar diselingi dengan improvisasi dalam bentuk humor, memerlukan kemampuan khusus. Kemampuan inilah yang dirangkum sebagai kemampuan public speaking. Saat ini makin banyak orang yang tertarik untuk mempelajari seni berbicara didepan orang banyak (publik).
Kesadaran masyarakat tentang pentingnya berbicara yang baik dan efisien didepan orang banyak, tumbuh setelah mereka melihat begitu banyak persoalan pelik yang dapat dijelaskan hanya dengan berbicara. Selain itu banyak pula yang merasakan pentingnya mampu berbicara dengan baik karena tuntutan tugas dan profesinya.
Kemampuan berbicara menjadi persyaratan utama yang tidak bisa ditawar dalam membuat orang tertarik dengan apa yang kita sampaikan. Syarat kemampuan public speaking tidak hanya dibutuhkan untuk berbicara di mimbar atau di panggung dengan khalayak ramai tapi berbicara dalam lingkup kecil yang tidak melibatkan banyak orang, tetap dibutuhkan syarat tersebut. Seperti berbicara sebagai pustakawan kepada siapapun yang menggunakan perpustakaan ini untuk kepentingan positif mereka.
Tanpa kemampuan yang baik dalam berbicara,(public speaking) pesan-pesan penting kadang menjadi sia-sia. Saat kita mampu mengeksplorasi kemampuan bicara kita, saat inilah ketidaksempurnaan akan berakhir. Kemudia kita menjadi sosok yang menyenangkan ditengah-tengah banyak orang.
Public Speaking diperlukan dalam segala bidang, misalnya:
1.    Presenter
2.    Penyiar radio
3.    MC
4.    Protokol
5.    Pranoto coro
6.    Dosen
7.    Guru
8.    Dai
9.    PR
10.    Reporter/Jurnalis
11.    Trainer
12.    Motivator
13.    Pejabat Pemerintah
14.    Istri pejabat pemerintah
15.    Pemimpin Perusahaan
16.    Pemimpin Partai/ Organisasi.
17.    Orator kampanye
18.    Perhotelan/ Restoran
19.    Customer service
20.    Marketing
21.    PUSTAKAWAN*
*Urutan terakhir hanya masalah penulisan, bukan berarti tidak butuh.
Bagaimana trik Public Speaking yang efektif?
1.    Kesamaan pandangan
Menciptakan koneksi dengan individu atau sekelompok orang yang menjadi audience kita. Membangun kesamaan pandang? Mengapa anda dan mereka berada diruang yang sama? Apa yang menyatukan kita semua? Mengerti apa yang mereka inginkan dan butuhkan?
2.    Bahasa tubuh dan bahasa mata. Bicara dengan akrab, bahkan bicara mendekati bentuk percakapan satu lawan satu sehingga terasa lebih akrab dekat dan akan membawa kesan kita sangat memperhatikan mereka. Perhatikan posisi duduk kita, berikan kesan kita siap mendengarkan mereka. Kontak mata akan menolong kita menyampaikan pesan yang punya dampak emosional. Tetap fokus dengan lawan bicara dan abaikan melihat yang lain. Jika pandangan bergeser, atau terlalu jauh membuang pandangan
mata, akan mengurangi kenyamanan orang lain saat berbicara dengan kita.
3.    Penampilan fisik
Penilaian ini pasti berlangsung sebelum dan selama seseorang berhadapan dengan kita. Sehingga sangat penting memperhatikan penampilan, kebersihan dan kerapian kita dari mulai kuku, rambut, make up serta pakaian.
4.    Beri kesempatan lawan bicara lebih banyak
Akan lebih banyak orang yang suka didengarkan daripada mendengarkan. Karena itu seorang public speaker hebatpun membutuhkan batas waktu tertentu untuk menahan perhatian orang lain atau audience untuk mendengarkannya. Penyiar radio, memiliki batas waktu bicara yang memikat pada 3 menit pertama. MC memiliki kesempatan memikat pada 40 detik-1 menit pertama. Public speaker yang bagus tidak lebih banyak membicarakan dirinya sendiri.
5.    Dengarkan
Simak dengan baik apa yang disampaikan sehingga kita bisa memahami semua pembicaraanya, pesannya, informasinya dan keinginannya serta dapat menghindari kesalahpahaman. Mereka akan merasa lebih dihargai. Karena kita menaruh minat yang tinggi pada mereka.
6.    Tunjukan ekspresi wajah
Tunjukan ekspresi yang wajar, jangan berlebihan. Penting untuk menunjukan bahwa kita memahami mereka dan berminat terhadap apa yang mereka sampaikan.
7.    Pilih kata-kata yang tepat.
Perasaan orang lain saat bersama kita sering merupakan hasil dari kata-kata yang kita pilih. Orang lain merasa salah, nyaman bahkan marah bisa muncul dari kata-kata kita.
8.    Atasi gangguan
Jika hal ini terjadi alihkan perhatian kita dengan memegang sesuatu atau menggunakan media lain untuk mengalirkan rasa stress kita sehingga tidak mengganggu konsentrasi sewaktu bicara.
9.    Atasi takut
Wajar jika muncul perasaan ini. Takut bicara dengan orang baru, orang banyak, orang-orang yang memiliki kemampuan diatas kita dan lain-lain. Rasa takut ini dipicu rasa tidak percaya diri. Tidak memiliki bahan pembicaraan dan paling parah tidak memiliki kemampuan bicara yang baik. Hal ini bisa diatasi dengan memiliki dorongan kuat untuk berani dan percaya diri. Dan berlatih untuk bicara yang menyenangkan. Perbanyak diri kita dengan ilmu pengetahuan, pergaulan dan wawasan. Ini yang akan menjadi modal kita, peluru kita untuk menghadapi banyak orang.
10.    Teknik bicara
Artikulasi adalah kejelasan kata. Seperti kata polres ada yang menyebut pores atau jalur rel kereta api ada yang kesulitan mengucapkan dengan jelas. Intonasi adalah irama bicara. Agar tidak terdengar membosankan dan lebih menarik. Speed adalah kecepatan bicara. Biasanya dimiliki oleh orang-orang
daerah tertentu. Orang Tegal, Madura, lebih terdengar cepat dalam bicara, sebaliknya orang Solo, Jogja dikenal bicara agak lambat. Meski hal ini kadang tergantung masing-masing individu. Jeda adalah titik koma atau pemenggalan kata dengan jelas. Penekanan adalah memberikan enegi dalam suara agar tidak terdengar letih atau loyo dan pemilihan terhadap hal-hal penting yang sedang dibicarakan.
11.    Awas, gagal komunikasi
Perusak utama komunikasi adalah perasaan menganggap orang lain tidak penting. Hal ini meski tidak terucap namun bisa dirasakan dengan hati. Karena komunikasi tidak hanya melibatkan lisan, telinga dan mata tapi juga dengan hati. Lakukan tanpa ada paksaan dan tekanan. Tulus dan jujur, akan memberikan hasil yang lebih baik.
CATATAN KEKURANGAN KITA DALAM BICARA
1. Gaya dan sikap berbicara?
2. Apakah suara saya sengau ?
3. Apakah suara saya terdengar tidak percaya diri ?
4. Apakah suara saya terdengar over PD dan cenderung sombong ?
5. Apakah suara saya hilang diujung kalimat ?
6. Apakah artikulasi saya tidak jelas ?
7. Apakah bicara saya terlalu jelas ?
8. Apakah suara saya terlalu lemah ?
9. Apakah suara saya seperti orang terjepit ?
10. Apakah suara saya terdengar gugup ?
11. Apakah cara berdiri saya kaku ?
12. Apakah tangan dan anggota tubuh saya terlalu banyak bergerak ?
13. Apakah mimik saya tegang ?
14. Apakah mimik saya tidak serius ?
15. Apakah saya overacting?
Setelah kita mengetahui kelemahan-kelemahan kita dan mencatatnya sebagai daftar yang perlu diperbaiki, letakkan daftar tersebut. Evaluasilah sekali lagi. Dengan melakukannya berulang-ulang, kelemahan-kelemahan ini biasanya dapat diperbaiki.
Disampaikan oleh Shinta Ardhany* dalam Ngobras..!! - Ngobrol Santai
“Public Speaking untuk Kemajuan Perpustakaan”
Selasa, 15 Maret 2011 di A.310 FIB Undip
* Shinta Ardhany adalah seorang penyiar radio di News Agency KBR 68H Jakarta, Presenter TV, Jurnalis, MC dan Guru MC.
Kontak komunikasi
081 367 377 151
Email : ardhan16@yahoo.com
FB : Shinta Ardhan
Presented by: Departemen PSDM
HMJ Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Diponegoro

Selasa, 12 April 2011

Desain Gedung Dan Perlengkapan Perpustakaan Sekolah



Gedung atau ruangan perpustakaan merupakan sarana yang amat penting dalam penyelenggaraan perpustakaan. Pembangunan gedung perpustakaan perlu memperhatikan faktor-faktor fungsional dari kegiatan perpustakaan. Selain memerlukan gedung dan penataan ruang yang memadai, penyelenggaraan perpustakaan memerlukan sejumlah peralatan dan perlengkapan, baik untuk pelayanan kepada pengguna maupun kegiatan rutin perpustakaan untuk dapat segera dimanfaatkan.

Pertimbangan untuk gedung perpustakaan:
  • Lokasi
  • Kebutuhan ruang
  • Tata ruang
  • Kenyamanan
  • Jumlah pengguna (jiwa)
  • Jumlah koleksi
  • Jenis dan macam layanan/ jasa yang diberikan
10 syarat gedung perpustakaan:
  • Flexible; ruangan, suhu, penerangan, dll dapat disesuaikan dengan kebutuhan, dapat dipinda-pindah dengan mudah bila diperlukan
  • Accessible; mudah dijangkau baik dari luar maupun dari pintu masuk
  • Compact; artinya mudah untuk mobilitas (perpindahan) pembaca, staf ataupun koleksi
  • Extendible; artinya dapat diperluas untuk keperluan yang akan dating tanpa banyak perubahan/gangguan (tidak membongkar yang sudah ada)
  • Varied; dapat menyediakan berbagai ruangan untuk berbagai koleksi dan berbagai jenis layanan
  • Organized; diatur dengan baik, sehingga memudahkan akses
  • Comfortable; menyenangkan, suasananya nyaman, tenang, dll.
  • Constant in Environment; memiliki temperature yang tetap sebagai upaya melindungi koleksi
  • Secure; aman dari segala gangguan
  • Economic; dapat dibangun dan dipelihara dengan biaya yang seekonomis mungkin
Penggunaan ruang

Penggunaan ruang perpustakaan diatur dengan ketentuan sbb:
  • Ruang koleksi         : 25%
  • Ruang baca                  : 45%
  • Ruang staf                    : 20%
  • Keperluan lain             : 10%
Hal-hal uang penting
  • Penerangan; sedapat mungkin, pada siang hari tidak mendapat cahaya matahari langsung, tetapi ruangan cukup terang. Lampu yang digunakan sebaiknya lampu neon
  • System penyejukan (terutama untuk koleksi AV= 25 derajat celcius)
  • Saluran air; jangan sampai menyebabkan kelembapan
Antisipasi terhadap berbagai gangguan keamanan:
  • Kebakaran: sebaiknya tersedia alat pemadam kebakaran dan instalasi listrik perlu diperhatikan
  • Air: memilih lokasi yang bebas banjir, dan terhindar dari perembasan air tanah
  • Hama: konstruksi dan bahan bangunan teutama pada atap hendaknya tidak memberi peluang bagi berkembang biaknya hama
  • Angina dan gempa bumi: berhubungan dengan konstruksi yang perlu dipertimbangkan
  • Petir: system penangkal petir harus dipasang
Perlengkapan perpustakaan
  • Rak untuk koleksi: rak buku, rak majalah, rak bahan AV, dll.
  • Meja dan kursi baca
  • Meja dan kursi petugas
  • Laci atau computer catalog
  • Tempat penitipan tas
  • Perlengkapan kerja: mesin tik, computer, dll.
Desain ruang dan perabot
  • Ruang perpustakaan dan semua perlengkapanya harus diatur sedemikian rupa sehingga terciptanya perpustakaan yang nyaman dan aman juga menyenangkan
  • Ruang perpustakaan harus didesain dengan prinsip harmonis, estetis dan ekonomis

Sabtu, 09 April 2011

Salah Kaprah Perpustakaan Dijital di Indonesia





Salah satu tema populer beberapa tahun belakangan ini di dunia dokumentasi adalah tentang perpustakaan dijital (digital library). Tema ini populer seiring dengan makin maraknya penerbitan elektronik dan mudahnya orang untuk membuat dokumen elektronik. Di Indonesia, sistem perpustakaan dijital banyak diterapkan di perpustakaan perguruan tinggi. Ini dapat dimaklumi karena perguruan tinggi mempunyai banyak konten berharga seperti skripsi, tesis dan disertasi.

Untuk membangun sistem perpustakaan dijital, ada banyak aplikasi yang bisa digunakan, baik yang komersial maupun yang Open Source. Di Indonesia, yang paling populer adalah Ganesha Digital Library (GDL) dengan lisensi GNU/GPL (www.gnu.org). GDL dibuat oleh KMRG (Knowledge Management Research Group) ITB. Sosialisasi GDL dilakukan dengan membuat inisiatif yang diberi nama Indonesia Digital Library Network (IndonesiaDLN). Sayangnya gaung inisiatif ini tidak lagi sekencang dulu.

Setelah sekian lama implementasi perpustakaan dijital di Indonesia, ada beberapa kesalahkaprahan terjadi yang menarik untuk didiskusikan.

Pertama, ternyata masih banyak orang (termasuk para pustakawan) yang belum bisa membedakan dan masih mencampuradukkan antara konsep “Perpustakaan Dijital” dengan “Automasi Perpustakaan” (library automation). Penulis pernah dimintai tolong untuk memberikan demo aplikasi perpustakaan dijital, ternyata yang diinginkan adalah aplikasi automasi perpustakaan. Seorang teman penulis --seorang web programmer-- memberi nama aplikasi buatannya sebagai digital library, padahal yang dibuat hanyalah katalog terpasang (online catalog).

Sebenarnya apa perbedaan mendasar sistem automasi perpustakaan dengan perpustakaan dijital? Sistem automasi perpustakaan adalah implementasi teknologi informasi pada pekerjaan-pekerjaan administratif di perpustakaan agar lebih efektif dan efisien. Apa saja yang termasuk pekerjaan administratif di perpustakaan. Diantaranya: pengadaan, pengolahan, sirkulasi (peminjaman, pengembalian), inventarisasi, dan penyiangan koleksi, katalog terpasang, manajemen keanggotaan, pemesanan

koleksi yang sedang dipinjam, dan lain-lain. Sedangkan sistem perpustakaan dijital adalah implementasi teknologi informasi agar dokumen dijital bisa dikumpulkan, diklasifikasikan, dan bisa diakses secara elektronik. Secara sederhana dapat dianalogikan sebagai tempat menyimpan koleksi perpustakaan yang sudah dalam bentuk dijital.

Kedua adalah masalah aksesibilitas. Sistem perpustakaan dijital dirancang agar koleksi perpustakaan lebih mudah diakses dan jangkauan aksesnya lebih luas. Yang terjadi di Indonesia, koleksi dijital justru lebih sulit diakses daripada koleksi tercetak (printed). Bukan karena keterbatasan infrastruktur, tetapi karena kebanyakan pengelola perpustakaan dijital masih takut atau bahkan “tak rela” orang lain bisa membaca koleksi dijitalnya.

Penulis sempat mengamati kegiatan pembangunan sistem perpustakaan dijital di sebuah perpustakaan perguruan tinggi. Dukungan pengelola universitas dari sisi dana sangat baik, tapi sekarang proyek tersebut mandek karena belum ada surat keputusan dari pengelola perguruan tinggi tentang siapa saja yang berhak membaca dan mendownload koleksi tersebut. Jadi sampai sekarang praktis tidak ada satu orang pun (kecuali administrator sistem) yang bisa membaca koleksi dijitalnya. Padahal koleksi yang dimasukkan sudah cukup banyak.
Penulis sempat mengusulkan agar segera dibuka akses minimal untuk lingkup perguruan tinggi itu saja, toh dari sisi keamanan sudah ada fitur user authentication built-in dan kalau mau bisa ditambahkan filtering di level alamat IP (Internet Protocol). Tetapi pi
hak pengelola perguruan tinggi masih khawatir dengan masalah copyright dan plagiarisme bila akses diberikan, meskipun hanya untuk lingkup universitas. Sebuah alasan yang tidak argumentatif. Plagiarisme sudah ada sejak dulu, ketika format dijital belum populer bahkan mungkin belum ada. Apapun bentuk media yang digunakan, plagiarisme akan selalu ada. Justru perpustakaan dijital bisa membantu mengurangi plagiarisme dengan cara memberikan akses informasi ke banyak orang, sehingga orang lain tahu siapa sudah mengerjakan apa. Lagipula, sebagai sebuah perguruan tinggi yang didanai oleh publik, seharusnya publik juga punya hak untuk mendapatkan akses hasil penelitian yang dilakukan perguruan tinggi tersebut.

Ketiga, masalah manajemen pengembangan sistem. Implementasi sistem perpustakaan dijital merupakan hal yang kompleks dan rumit. Karena itu perlu perencanaan yang matang, mulai dari white papers, spesifikasi fungsional sistem, model bisnis, manajemen teknologi, isu legal, manajemen sumberdaya manusia, prosedur, dan lain-lain. Sayangnya banyak implementasi perpustakaan dijital di Indonesia tidak memperhatikan hal-hal ini. Sehingga sering implementasi akhirnya mandek karena adanya hal-hal yang belum bisa diselesaikan di fase awal implementasi. Seringpula implementasi perpustakaan dijital dilakukan tanpa mendapatkan dukungan penuh dari institusi induknya. Implementasi perpustakaan dijital bukan merupakan hal mudah, terlebih lagi ia melibatkan banyak pihak. Supaya berhasil, harus mendapat dukungan penuh dari pihak-pihak yang terkait, dan yang tidak kalah penting adalah model bisnisnya harus jelas serta terdokumentasi.

Beberapa Isu Yang Patut Diperhatikan

Terkait dengan beberapa kesalahkaprahan diatas, ada beberapa isu yang patut diperhatikan terkait dengan implementasi sistem perpustakan digital.

Pertama, para pengelola sistem perpustakaan dijital hendaknya mengetahui esensi perpustakaan dijital. Yaitu agar koleksi perpustakaan lebih mudah diakses dan jangkauan aksesnya lebih luas. Karena itu adalah salah besar kalau perpustakaan dijital jadi lebih sulit diakses oleh pemakai perpustakaan, dengan alasan apapun.

Kedua, isu legal. Para pengelola sistem perpustakaan dijital hendaknya memahami secara jelas masalah legal terkait dengan konten dijital yang dimasukkan kedalam sistem perpustakaan dijital. Selain kompleks, isu ini juga selalu merupakan isu utama dalam implementasi perpustakaan dijital di Indonesia. Permasalahan utama implementasi perpustakaan dijital di Indonesia bukanlah pada sisi teknologi, tapi pada sisi non-teknologi. Sulitnya, seringkali para pengelola perpustakaan terlalu banyak berdiskusi berkutat hanya pada isu legal dan melupakan isu penting lainnya. Seolah-olah legal merupakan isu yang paling utama. Ketika masalah legal tidak kunjung selesai, akhirnya dibiarkan menggantung, sehingga terkesan tidak serius. Hendaknya sistem perpustakaan dijital yang dibuat nantinya, sudah punya dasar hukum yang jelas, sehingga nanti sistem tersebut tidak mandek lagi menunggu kepastian hukum mengenai dokumen dijital yang disertakan. Akan lebih baik bila institusi lain yang berhasil menerapkan sistem perpustakaan dijital, mau berbagi pengetahuan mengenai best practice yang telah dilakukan. Masalah krusial implementasi sistem perpustakaan dijital tidak hanya pada masalah legal, tetapi juga pada masalah sosial seperti bagaimana sistem perpustakaan dijital mampu meningkatkan antusiasme pemakai perpustakaan untuk terus produktif belajar, menghasilkan pengetahuan baru, dan mau berbagi pengetahuan.

Ketiga, terkait dengan isu pertama, tujuan utama perpustakaan digital bukan sebagai sarana preservasi koleksi. Koleksi dijital justru lebih rentan kehilangan data dan terjadinya inkompatibilitas. Untuk mengatasi masalah ini, isu-isu berikut ini harus diperhatikan.

Keempat, isu teknologi. Terkait dengan isu ketiga, maka masalah teknologi perlu mendapat perhatian serius. Media tempat menyimpan informasi digital selalu mengalami degradasi dan bisa rusak tanpa pemberitahuan sama sekali. Perangkat keras dan lunak seringkali ketinggalan zaman tanpa kita sadari. Karena itu perlu diperhatikan manajamen daur hidup (lifecycle management) koleksi dijital yang disimpan.

Kelima, isu manajemen konten dijital. Semakin besar volume dan kompleksitas dokumen dijital, maka akan mulai timbul masalah, diantaranya: pemeliharaan koleksi, temu kembali informasi (information retrieval), dan klasifikasi. Solusi yang bisa dilakukan antara lain: pembuatan prosedur standar untuk pemeliharaan koleksi, pemeliharaan sistem temu kembali informasi (perbaikan algoritma), dan pembuatan tesaurus.

Sumber: http://hendrowicaksono.multiply.com/journal/item/3

Rabu, 06 April 2011

KOSONG: si mata kuliah favorit

Hahaha.., lucu memang kalau mendengar kalimat itu, tapi nyatanya kalimat itu sering terdengar di kampus. Mungkin kalimat itu ada benarnya, sesekali kosong bolehlah, tetapi kalu terus-terusan ya susah. Faktanya sebagian besar dari kita masih menempatkan dosen sebagai sumber informasi yang utama (termasuk yan nulis kali ya, hehe.. ).

Pernyataan itu memang tidak sepenuhnya benar, yang menjadikan kosong sebagai mata kuliah favorit tentu tidak semuanya. Masih banyak mahasiswa yang merasa kecewa mendapati kuliahnya kosong. Masalahnya kecewa itu karena memang kuliah yang kosong atau karena sudah mandi, dandan, dan sampai ke kampus? Entahlah, tatapi saya sempat menemukan status facebook seorang teman seperti ini..,

Bagaimana dengan kita?

Masuk kriteria manapun kita, yang penting kita tetap menyadari posisi kita sebagai generasi muda. Kita harus tetap berkarya untuk mempersiapkan masa depan. Dan yang paling penting, ambil hikmahnya saja. Dosen gak datang anggap saja memberikan kesempatan untuk belajar lebih luas, dan lagi kuliah kan tidak harus di kampus…

SETIAP TEMPAT ADALAH SEKOLAH, SETIAP ORANG ADALAH GURU..!

(waduh.., jadi terasa tua deh…)

Selasa, 05 April 2011

Main ke Perpustakaan IAIN Walisongo, Semarang

Senin pagi aku dan teman-temanku mengunjungi Perpustakaan IAIN Walisongo yang ada di kampus 3 IAIN Walisongo. Sebenarnya ini tidak sekedar main, tetapi membawa sebuah misi menyelesaikan tugas matakuliah Automasi Pusdokinfo mengenai automasi perpustakaan. Di Perpustakaan IAIN kami disambut oleh Kepala Perpustakaan kemudian kita diajak ke American Corner dan mempertemukan kami dengan Pak Bahrul Ulumi dan Mas Arman. Setelah diberi sedikit pengantar oleh Kepala Perpustakaan, kami diajak keliling perpustakaan IAIN Walisongo oleh Mas Arman, mulai dari ruang server, bagian pengolahan, sirkulasi dan lain-lain. Kami berbincang-bincang banyak dengan Mas Arman, pustakawan dan staf yang ada di setiap bagian. Kurang lebih seperti inilah kunjungan kami ke perpustakaan IAIN Walisongo selama kurang lebih 2 jam.

Sejarah Automasi Perpustakaan IAIN Walisongo Semarang

Perpustakaan IAIN Walisongo Semarang sudah menerapkan automasi perpustakaan sejak tahun 1997. Saat itu menggunakan software Insis dari Departemen Agama. Pada awalnya automasi pada Perpustakaan IAIN Walisongo belum ada jaringan, hal ini tentunya sangat menyulitkan dan proses temu kembali juga masih sangat lambat hingga akhirnya pada tahun 1998 migrasi ke ISIS yang dibuat oleh Unesco. Ketika menggunaka ISIS ini sudah menggunakan jaringan komputer dan proses temu baliknyapun juga lebih cepat, tetapi sayangnya proses indexing masih memakan waktu yang cukup lama.

Tahun 2003, Perpustakaan IAIN Walisongo melakukan migrasi data ke SIPISIS, sebuah software automasi perpustakaan dari ITB. Namun, sampai pada saat itu automasi perpustakaan belum diterapkan pada bagian sirkulasi, masih terbatas pada database dan penelusuran informasinya saja.

2004 merupakan tonggak baru bagi automasi Perpustakaan IAIN Walisongo. Mulai tahun 2004 Perpustakaan IAIN Walisongo sudah menerapkan full automatisation, software yang digunakan adalah SIMPUS dan untuk interface panggunanya dibuat menggunakan visual basic. Disini uniknya terletak pada bagian sirkulasi. Pada sirkulasi diberlakukan dual mode automatisation, untuk peminjaman baru dilayani menggunakan SIMPUS, tetapi untuk pengembalian buku-buku lama masih menggunakan SIPISIS, hal ini karena peminjaman buku-buku itu masih terekam pada database SIPISIS.

Automasi Masa Kini

Mulai akhir yahun 2010, Perpustakaan IAIN Walisongo melalukan migrasi data ke Senayan 3 stable 14 (http://library.walisongo.ac.id/senayan3-stable14/). Untuk konversi data ini dibutuhkan waktu ± 3 bulan dan mulai Maret 2011 Perpustakaan IAIN Walisongo resmi menggunakan Senayan. Senayan ini merupakan software yang sangat bagus dan mampu mengakomodasi hampir seluruh kegiatan perpustakaan, mulai dari pengolahan (bibliografi), sirkulasi, keanggotaan dan stock opname. Tidak hanya itu, untuk pengaksesan data yang ada di database senayan juga cukup cepat, sayangnya antara database perpustakaan pusat, perpustakaan fakultas dan sudut baca yang ada masih terpisah padahal akan lebih bagus lagi kalau database yang ada diintegrasikan menggunakan Union Catalog Server (UCS) yang ada pada Senayan 3 stable 14.

Sampai saat ini (4 April 2011) data bibliografi yang sudah diunggah ke database senayan 16.256 judul, 48.437 eksemplar. Koleksi itu terdiri dari 47.655 buku teks, 692 referensi, fiksi 60 eksemplar dan 30 reserve. Perpustakaan IAIN Walisongo belum melakukan migrasi data koleksi serial ke database senayan, hal ini karena masih ada perbedaan format data yang ada.

Pengelolaan Local Content

Local Content yang ada di Perpustakaan IAIN Walisongo terdiri dari skripsi dan hasil penelitian sivitas akademik IAIN Walisongo. Untuk pengelolaan local content, Perpustakaan IAIN Walisongo tidak menggunakan Senayan, tetapi menggunakan Ganesha Digital Library (GDL) sebuah software perpustakaan digital keluaran ITB. Local Content tersebut dapat diakses secara full text di http://library.walisongo.ac.id/digilib/ tidak hanya oleh mahasiswa IAIN, tetapi oleh siapa saja yang telah mendaftar. Digital Library IAIN Walisongo ada sejak 21 Juni 2010, walaupun masih terhitung baru, akses ke local content IAIN Walisongo sangatlah tinggi.